Taman Baca Baraoi "Manalih Lewu"

Taman Baca Baraoi - Data hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 menyebutkan, budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Hasil yang masih serupa juga dirilis oleh Most Literate Nations in the World  Maret 2016 lalu, di mana posisi Indonesia masih terpuruk di urutan ke-60 di antara total 61 negara.
Taman Baca Keliling Desa Terpencil
Kegitan Survey lokasi
Ada banyak faktor mengapa hanya ada satu orang dari 1000 penduduk Indonesia yang membaca buku secara serius1. Salah satunya adalah karena tidak ada atau minimnya ketersediaan buku. Tidak bisa dipungkiri masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki perpustakaan, Taman Bacaan dan tempat penyelenggaraan kegiatan literasi sejenis. Kalaupun ada jumlah koleksinya sangat terbatas karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi.
Program Taman Baca Baraoi
Program Taman Baca Baraoi "Manalih Lewu"

Sebagai kecamatan yang relatif baru, Petak malai yang belum menikmati PLN, Sinyal dan jalan umum yang layakjuga mengalami kendala yang sama. Meski Taman Baca Baraoi secara swadaya dan dengan segenap keterbatasan berhasil dihadirkan di Tumbang Baraoi (ibukota Kecamatan) namun letak desa-desa di Kecamatan Petak Malai yang berjauhan serta kendala akses jalan membuat warga dari desa lain kesulitan untuk bisa mengikuti kegiatan literasi yang diselenggarakan. Padahal sejak didirikan tahun 2014 lalu, taman baca sudah berkomitmen untuk membantu menumbuhkembangkan minat baca, pemberantasan butu aksara, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun kondisi tersebut tidak membuat pengurus dan relawan berpatah arang. Agar warga khususnya usia anak-anak dan remaja dari desa lain tetap dapat mengakses buku-buku bacaan yang ada, maka dibuatlah program Taman  Baca Baraoi "Manalih Lewu" yang artinya kurang lebih Taman Baca Baraoi Menyapa Desa.

Serupa dengan perpustakaan keliling, program "Manalih Lewu" ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan bisa lebih maksimal memberikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak terkhusus masyarakat yang tinggal didaerah pedalaman yang selama ini tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk menimba ilmu pengetahuan.

Meskipun program ini sudah digagas sejak tahun lalu, realisasinya baru bisa dimulai tahun ini. Adapun yang menjadi tujuan pertama adalah Dusun Tumbang Papi. Untuk menuju dusun ini menggunakan jalur transportasi air karena meskipun bisa, jalur darat masih sangat sulit untuk bisa ditembus menggunakan kendaraan biasa.

Program ini diharapkan bisa berjalan berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak desa. Walaupun sebagai lembaga yang didirikan secara swadaya saat ini dana operasional Taman Baca Baraoi masih bergantung dari dana sukarela pengurus dan relawan serta sumbangan dari donatur. Karenanya kami sangat mengapresiasi bagi yang ingin membantu kegiatan ini baik perorangan ataupun instansi dalam bentuk sponsorship maupun donasi.


Footnote
1. Hasil survei UNESCO pada 2011 
2. Kecamatan Petak Malai dalam angka 2016